Tampilkan postingan dengan label Kasus Foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasus Foto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2009

Lidah Putih


Warna Teks
Seorang pria dengan usia 55 tahun, tidak merokok, dengan multiple myeloma yang refrakter dengan kemoterapi, masuk rumah sakit untuk transplantasi stem-cell autolog. Palifermin diberikan sebelum dan setelah transplantasi. 3 hari setelah pemberian palifermin intravena pre-transplantasi, muncul plak putih lengket yang meliputi lidah. Kultur menunjukkan flora normal oral tanpa candida. Oral mucositis tidak dialami dan plak putih tersebut pudar tanpa penanganan dalam waktu 1 minggu dan tidak terjadi lagi setelah pemberian palifermin post-tranplantasi. Pasien dipulangkan 2 minggu setelah transplantasi sukses dilakukan. 

Palifermin, suatu rekombinan growth factor keratinocyte, digunakan untuk mencegah cedera mukosa oral yang dipicu oleh terapi sitotoksik pada pasien yang menjalani transplantasi stem cell hematopoetik. Palifermin memicu proliferasi dan differensiasi sel epitel. Lidah putih biasanya ditemukan pada pasien yang ditangani dengan palifermin dan kebanyakan bersifat sementara dan merupakan penebalan yang melindungi mukosa.

Jumat, 20 Juni 2008

Paku di V.Urinaria


A 35-year-old woman with bipolar disorder was found wandering on a highway screaming and crying, with disorganized speech. She was evaluated in the emergency department, and computed tomography of the head revealed a hypodense area. The patient reported that she had a nail in her uterus. In the context of the presentation, this was deemed to be unlikely. However, before magnetic resonance imaging was performed for further evaluation, radiography of the abdomen showed a large nail, which was localized to the bladder on ultrasonography, and an intrauterine device in the uterus. Surgery was scheduled to remove the nail, but on the morning before surgery, the patient painlessly passed a 10-penny 8.3-cm steel nail while voiding. After resolution of this psychotic episode, the patient revealed that her intention was to place the nail in her uterus as a means of protection against being raped, which had occurred in the recent past. She was subsequently admitted to a psychiatric facility.

Terjemahan : Seorang wanita 35 tahun dengan gangguan afek bipoler ditemukan berjalan di jalan raya sambil berteriak-teriak dan menangis dengan bahasa yang tidak teratur. Ia di evaluasi di UGD dan pada gambaran CT-scan Kepala terdapat area hipodens. Pasien melaporkan bahwa terdapat paku pada rahimnya. Pada keadaan pasien seperti ini, hal ini diragukan kebenarannya. Namun, sebelum dilakukan MRI untuk pemeriksaan penunjang, foto polos pada abdomen memperlihatkan paku besar. Paku ini terletak di buli-buli (vesika urinaria) pada gambaran USG dan terlihat juga adanya IUD pada uterus. Operasi telah direncanakan untuk membuang paku tersebut, tetapi pada pagi hari, tanpa rasa sakit, pasien mengeluarkan paku alumunium berukuran 8,3 cm setelah buang air kecil. Setelah episode psikotik berakhir, pasien menyampaikan keinginannya menyimpan paku pada rahimnya sebagai alat untuk mencegah pemerkosaan terhadap dirinya, dimana pernah terjadi sebelumnya pada masa lalu. Pasien ini kemudian dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa.
(Source from www.nejm.org)

Jumat, 13 Juni 2008

Abses Peritonsiler Bilateral

ABSES PERITONSILER BILATERAL
Seorang wanita, 19 tahun masuk Unit gawat darurat dengan keluhan odynophagia intermitten, perubahan suara, dan demam. Keadaan ini telah dialami selama 10 hari. Sebelum kedatangannya di UGD, pasien telah diberikan pengobatan azithromycin dan prednison untuk faringitis dan diikuti dengan penisilin selama 2 hari dan dosis prednison di-tappering off. Pasien terlihat sehat. Pemeriksaan kami mendapatkan adanya pembengkakan palatum molle dengan midline uvula tertekan di anterior (Gambar A, panah). CT-Scan leher setelah pemberian kontras memperlihatkan adanya abses peritonsiler bilateral (Gambar B, panah). Dokter THT melakukan biopsi jarum halus dan memeriksa cairan yang didapatkan. Kemudian diikuti dengan insisi pada kedua abses dan dari drainase diperoleh cairan purulenta sebanyak 10ml dari setiap abses. Pasien sembuh sempurna dari gejala dan dipulangkan dengan pengobatan antibiotik selama 14 hari. Pemeriksaan 6 hari setelah pemulangan memperlihatkan abses rekuren yang membutuhkan aspirasi tambahan. Pasien membaik setelah 17 hari kemudian, dimana ia datang ke UGD lagi dengan abses peritonsiller kanan. Otolaryngologist melakukan aspirasi lagi dan menyarankan tonsillectomy. Tonsillectomy yang kemudian dilakukan pada rumah sakit lain dan pasien pun sembuh sempurna. (Artikel dari NEJM.org, translated by HM)


Kista Ovarium Raksasa

KISTA OVARIUM RAKSASA


Seorang wanita, 24 tahun (gravida 0, para 0) datang dengan riwayat distensi abdomen dialami sejak satu tahun yang lalu, diikuti dengan perasaan cepat kenyang dan konstipasi. Tidak ada riwayat menstruasi abnormal, nyeri pelvis, dan peningkatan frekuensi urin. Pasien ini memiliki riwayat poliomyelitis sekitar 18 tahun yang lali dan masih menggunakan tongkat untuk berjalan. CT scan memperlihatkan gambaran massa besar, berkapsul yang mengisi seluruh rongga abdomen (Gambar A); CT-Scan juga mempelihatkan adanya kompresi usus pada bagian posterior (tanda panah) dan pada ginjal kiri (kepala panah). Pada ekplorasi laparotomi ditemukan massa cystic berkembang dari adnexa kiri; adnexa kiri tetap normal.
A right salpingo-oophorectomy dilakukan dan massa cystic berukuran 37 X 22 X 27 cm dengan dinding licin, mengkilap di keluarkan (Gambar B). Pemeriksaan Patologis mengkonfirmasi bahwa kista merupakan benign cystadenoma serous, ditandai dengan adanya lapisan sel epitelial columner ciliated tunggal dan stroma yang mengandung fibroblast; kelainan nukleus dan peningkatan index mitosis tidak ditemukan. Pasien sembuh sempurna dan dibolehkan pulang 1 minggu setelah operasi. (bahan dari NEJM.org, Translated by HM)