Sabtu, 06 September 2008

Blepharitis

BLEPHARITIS

Terjemahan dari Vaughan & Asbury's General Ophthalmology 17th Edition

Blepharitis Anterior

Blepharitis anterior merupakan inflamasi kronik yang umum terjadi pada perbatasan kelopak mata. terdapat dua tipe yaitu staphylococcal dan sebrrhoik. Blepharitis staphylococcus dapat disebabkan oleh infeksi Staphylococcus aureus, dimana biasanya bersifat ulseratif, atau Staphylococcus epidermidis atau staphylococci negatif coagulase. Blepharitis seborrhoik (nonulseratif) biasanya terkait dengan keberadaan Pityrosporum ovale, walaupun organisme ini belum terbukti bersifat kausatif. Seringkali, kedua tipe ditemukan (infeksi campuran). Seborrhoik pada kulit kepala, alis, dan telinga seringkali terkait dengan blepharitis seborrhoik.

Gejala utama adalah iritasi, perih, dan gatal pada batas kelopak mata. Mata berwarna sedikit kemerahan. Terlihat banyak sisik dan granulasi melekat pada bulu mata pada kelopak mata atas dan bawah. Pada tipe staphylococcal, sisik kering, kelopak mata memerah, sedikit area ulserasi ditemukan pada batas kelopak mata, dan bulu mata cenderung berguguran. Pada tipe seborrhoik, sisik terlihat berminyak, ulserasi tidak terjadi, dan kelopak marah sedikit memerah dibanding tipe staphylococcal. Pada tipe campuran, baik sisik kering dan berminyak terlihat dan batas kelopak mata memerah dan dapat berulserasi, S. aureus dan P. ovale dapat terlihat pada pewarnaan bagian yang dikerok dari kelopak mata

Blepharitis Staphylococcal dapat disertai (berkomplikasi) dengan hordeola, chalazion, keratitis epitel kornea, dan infiltrat kornea marjinal. Kedua bentuk blepharitis anterior ini merupakan predisposisi dari konunctivitis rekuren.

Kulit kepala, alis, dan kelopak mata harus dalam keadaan bersih, terutama pada tipe seborrhoik, dengan menggunakan sabun dan shampo. Sisik harus dibuang dari kelopak mata setiap hari dengan aplikator katun basah dan shampo baby.

Belpharitis Staphylococcal dapat diatasi dengan pemberian antibiotik antistaphylococcal atau salep mata sulfonamide diberikan pada aplikator katun setiap hari pada batas kelopak mata.

Tipe seborrhoik dan staphylococcal biasanya tercampur dan dapat menjadi kronik dalam periode bulan bahkan tahun jika tidak ditangani secara adekuat; konjuntivitis terkait infeksi staphylococcus atau keratitis biasanya menghilang setelah pengobatan antistaphylococcus lokal.

Blepharitis Posterior

Blepharitis Posterior merupakan peradangan pada kelopak mata akibat adanya disfungsi dari kelenjar meibom. Seperti blepharitis anterior, penyakit ini bersifat bilateral, kondisi kronik. Blepharitis anterior dan posterior dapat terjadi bersamaan. Derrmatitis seborrhoik biasanya terkait dengan disfungsi kelenjar meibom. Kolonisasi atau infeksi jenis staphylococcus seringkali menyebabkan penyakit kelenjar meibom dan dapat menjadi alasan terjadinya gangguan pada fungsi kelenjar meibom. Lipase bakteri menyebabkan peradangan pada kelenjar meibom dan konjungtiva dan gangguan pada organ lakrimasi

Blepharitis posterior mempunyai manifestasi klinis yang luas, yang melibatkan kelopak mata, apparatus lakrimalis, konjungtiva, dan kornea. Perubahan kelenjar meibom termasuk inflamasi pada orificium meibom (meibomianitis), tersumbatnya orificium oleh sekresi yang kering dan tebal, dilatasi kelenjar meibom pada sisi tarsal, dan produksi sekresi lembut, kental, lengket yang abnormal yang dapat menekan kelenjar. Hordeolum dan chalazion dapat terjadi. Batas kelopak mata hyperemis dan terdapat telangiektasis. Kelopak mata juga menjadi lebih bundar dan tertarik ke dalam akibat pembentukan jaringan parut pada konjunctiva tarsal, menyebabkan hubungan abnormal antara lapisan air mata prekornea dan orificium kelenjar meibom. Air mata dapat sedikit berbuih dan terlihat lebih berminyak. Hipersensitivitas pada staphylococci dapat menyebabkan keratitis epitelial. Kornea dapat mengalami vaskularisasi perifer dan penipisan, terutama pada bagian inferior.

Penanganan blepharitis posterior bergantung pada konjungtiva yang terkait dan perubahan kornea. Inflamasi pada struktur ini mengharuskan pengobatan aktif, termasuk antibiotik dosis rendah jangka panjang – biasanya dengan doxycycline (100mg dua kali sehari) atau eritromisin (250 mg tiga kali sehari), namun pemilihan anntibiotik juga perlu dipandu hasil kultur kelopak mata dan disertai dengan steroid topikal (jangka pendek), misal dengan prednisolone, 0, 125% dua kali sehari. Terapi topikal dengan antibiotik atau air mata tambahan biasanya tidak terlalu dibutuhkan dan dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada lapisan air mata dan reaksi toksik

Jumat, 05 September 2008

Rokok - Kanker

Kasus Kanker Akibat Merokok Mencapai 2 Juta Kasus
Data dari CDC, Lebih dari 2 juta Kasus Kanker Terkait Merokok Didiagnosis di Amerika Serikat (AS) dari Tahun 1999 hingga 2004
By Miranda Hitti
WebMD Health News
Translated by Husnul Mubarak

Sept. 4, 2008 -- Sekitar 2,4 juta kasus kanker akibat rokok terdiagnosis di AS dari tahun 1999 hingga 2004, seperti yang diumumkan CDC (Center for Disease Control and Prevention, suatu organisasi resmi AS yang bertujuan untuk pengendalian dan pencegahan penyakit) pada tanggal 4 September 2008.

Kanker paru dan bronchus paling banyak, terhitung setengah dari keseluruhan kasus yang terdiagosis, menurut CDC, data ini merupakan "Penilaian paling komprehensif hingga saat ini" menyangkut diagnosis kanker yang terkait dengan pemakaian rokok. "Penggunaan rokok merupakan penyebab penyakit dan kematian dini yang paling dapat dicegah di AS dan merupakan penyebab kanker yang paling jelas," Ucap Matthew McKenna,MD,MPH, direktur Bagian Rokok dan Kesehatan di kantor CDC, pada saat mengumumkan berita ini.

"Epidemiologi penggunaan rokok merupakan penyebab kanker terbesar ketiga di Amerika," tambahnya.

Laporan CDC ini berfokus pada kanker bronkus dan paru, kanker rongga mulut, kanker saluran kemih, acute myelogenous leukemia (AML), dan kanker larynx, pharynx, esofaugs, lambung, serviks, pankreas, dan ginjal.

Diagnosis kanker terkait penggunaan rokok paling sering ditemukan pada pria, populasi Africa-American dan non-Hispanik, dan usia dibawah 70 tahun. Secara geografis, diagnosis kanker paru dan laryng merupakan yang tersering di Selatan. Di Barat sendiri angka kanker lambung yang dominan sementara insiden kanker lainnya merupakan jumlah yang paling rendah dibanding daerah lain di AS.

Selasa, 02 September 2008

Vaksin HIV

Vaksin HIV : Tantangan dan Prospek
Perspektif Penulis

Sekarang kita telah memasuki dekade ketiga pandemik Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan AIDS, kita telah melihat kesuksesan dalam penanganan orang-orang yang terinfeksi HIV di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya. Namun pandemik tersebut masih sangat merajalela, dengan 2,7 juta infeksi baru pada tahun 2007. Dari satu orang yang terinfeksi yang memulai terapi antiretroviral, terdapat 2,5 orang baru terkena infeksi HIV lagi. Di negara berkembang sendiri seperti Indonesia, pada tahun 2007 menurut data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Indonesia, terdapat 169 orang tiap harinya terjangkit virus HIV dan tingkat kematian akibat AIDS mencapai 102 orang per hari. Peluang untuk mencegah dan menahan laju perkembangan penyakit ini telah menjadi prioritas intervensi kesehatan di seluruh dunia.

Secara historis, vaksinasi telah menjadi intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif untuk mencegah penyebaran infeksi virus. Namun vaksin HIV sejauh ini masih sangat tidak jelas dan telah banyak usaha yang mengecewakan dan membuat frustasi serta membuat orang berandai-andai apakah suatu saat nanti suatu vaksin yang efektif akan benar-benar masuk dalam kotak alat pencegahan HIV.

Walaupun banyak infeksi virus membuat penyakit yang berat dan bahkan berakhir pada kematian dapat terjadi dalam beberapa hari atau minggu, infeksi tersebut biasanya menginduksi sistem respon imun yang dapat menetralisir antibodi untuk mencegah replikasi virus dan limfosit T sitotoksik yang mampu mengenal dan mengeliminasi sel yang terinfeksi yang telah menjadi media bagi virus untuk beranak pinak. Respon imun tersebut dapat mengendalikan dan mengeliminasi virus secara efektif. Memori immunologis pun diciptakan dan seseorang yang telah terinfeksi akan memiliki imunitas pelindung terhadap infeksi berulang dari virus yang sama; imunitas ini biasanya sempurna dan dapat bertahan lama.

Biasanya, pengembangan vaksin berdasar dari eksperimen alamiah yang berhasil. Suatu pendekatan berulang dari riset fundamental digabung dengan pemeriksaan immunogen secara empiris menghasilkan identifikasi dari suatu produk yang, ketika diberikan dalam formulasi dan dosis yang tepat sebelum paparan, akan memicu respon imun yang menyerupai respon imun pada infeksi alamiah dan akan melindungi resipien dari penyakit ketika mereka terpapar virus yang telah dibuat vaksinnya tersebut. Secara historis, pengembangan vaksin sangat bergantung kepada kesuksesan suatu pemeriksaan empiris.

Namun keadaannya berbeda dengan infeksi HIV. Pada kebanyakan fase, respon imun alamiah terhadap HIV sangat tidak adekuat dan sekali infeksi primer terjadi, virus tidak akan dapat dieradikasi. Dengan pengecualian terhadap keadaan yang tidak biasanya, HIV berkembang sangat cepat dan tak terhentikan, serta tidak ada seseorang pun yang telah mengalami penyembuhan secara spontan. Tidak seperti virus lainnya dimana kita telah dapat mengembangkan vaksinnya, HIV secara cepat mengintegrasikan dirinya pada DNA sel tamu, dimana, pada beberapa sel, virus ini menjadi laten dan secara esensial tak terdeteksi sistem imun. Karena latensi ini berkembang sangat cepat - dalam beberapa hari hingga minggu setelah infeksi - celah kesempatan dimana HIV dapat memungkinkan untuk dieradikasi melalui respon imun sangat singkat. Setelah latensi terjadi, sampai sekarang tidak memungkinkan untuk menyingkirkan virus ini, meskipun pasien mendapatkan terapi antiretroviral yang sangat aktif selama periode yang berkepanjangan.

Kemampuan mutasi yang luar biasa dan mengakibatkan keragaman genetik yang dimiliki oleh HIV, yang secara substansial lebih kompleks dibandingkan virus lainnya yang menyerang manusia, menjadi hambatan yang sangat ditakuti oleh sistem imun. Ketika tubuh memproduksi antibodi yang ditargetkan terhadap protein permukaan luar envelope HIV, yang menjadi kunci bagi antibodi dalam penetralisiran, protein tersebut telah bermutasi sedemikian rupa sehingga antibodi yang bersirkulasi tidak lagi dapat mengeliminasinya. Antibodi yang baru pun diinduksi, namun mutasi baru pun terjadi kembali yang memudahkan bagi virus untuk menyerang balik sistem imun. Lebih lanjut lagi, walaupun antibodi penetralisir dapat dihasilkan sangat banyak oleh host dan kemudian dapat berpotensial menetralisir virus bahkan setelah bermutasi, hal ini sangat jarang terjadi in vivo dan sepertinya sangat sulit diinduksi, karena epitope virus cenderung terbentuk "bertopeng" dan tidak dapat secara langsung dikenali dan direspon oleh sistem imun.

Pendekatan awal empiris dengan imunisasi VacGen's AIDSVax, suatu rekombinan dari bagian luar glycoprotein-120 (gp120) dari envelope HIV, yang merupakan strategi kunci kesuksesan pengembangan vaksin Hepatitis B, gagal melindungi sukarelawan dari infeksi, kemungkinan karena vaksin tidak menginduksi antibodi penetralisir secara meluas3. Suatu kombinasi vaksin yang terdiri dari dosis prima Sanofi Pasteur's vCP 1521, suatu rekombinan vektor virus canarypox, diikuti dengan dosis boosting dari vaksin tersebut dan VaxGen's AIDSVax, dapat menginduksi baik sel T dan antibodi dan sekarang telah dicoba pada penilitian klinis berskala besar di Thailand; hasil peneliian diharapkan selesai pada tahun 2009.

Vaksin yang berhasil kemungkinan membutuhkan induksi antibodi yang meluas dan limfosit T sitotoksik. Karena penelitian sebelumnya masih belum jelas, tetapi, pendekatan empiris telah berfokus pada kandidat vaksin yang dapat menginduksi terutama pada limfosit T sitotoksik. Vaksin sedemikian rupa tidak diharapkan dapat mencegah infeksi namun paling tidak dapat mengendalikan kadar virus, mengurangi destruksi dini sel T CD4+ pada gut associated lympoid tissue (GALT), dan menunda progresi penyakit, seperti telah terlihat pada hewan primata percobaan. Lebih lanjut lagi, jika seseorang diimunisasi sebelum terpapar HIV dapat dibuat menjadi kurang infeksius karena jumlah virus yang telah berkurang, resiko dari transmisi sekunder dapat pula dikurangi. Namun beberapa peringatan perlu ditegaskan dalam hal ini.

Pertama, konsep bahwa suatu "Vaksin sel T" dapat mempengaruhi penyakit HIV pada manusia tetap tidak terbukti. Hanya satu vaksin sel T, vaksin Merck’s MRKAd5 HIV-1 gag/pol/nef trivalent, yang telah diperiksa, pada dua penelitian. Penelitian pertama, adalah STEP trial (ClinicalTrials.gov number, NCT00095576) dan dilakukan di Amerika Utara, Kepulauan Karibia, Amerika Selatan, dan Australia; Penelitian kedua, yang disebut, Phambili (ClinicalTrials.gov number, NCT00413725), dikerjakan di Afrika Selatan. Kedua penelitian berakhir sebelum jadwal ketika dara dari STEP trial menyimpulkan bahwa vaksin telah gagal mencegah infeksi HIV dan gagal pula menurunkan kadar virus pada sukarelawan yang divaksinasi dan menjadi terinfeksi. Secara tidak sengaja pula, diketahui dari analisa penelitian tersebut, menemukan kecenderungan peningkatan angka infeksi baru pada resipien vaksin dibandingkan dengan resipien plasebo. Resiko relatif tertinggi dari infeksi HIV diantara orang yang telah divaksin adalah pada pria, yang pada permulaan penilitan, belum menjalani sirkumsisi dan sebelumnya telah terjadi pembentukan antibody penetralisir secara alami terhadap vector vaksin, adenovirus tipe 5 - dimana tidak ada peningkatan resiko HIV yang terlihat pada pria yang telah disirkumsisi dan tidak ada antibody penetralisir terhadap adenovirus pada waktu penelitian.

Efektivitas dari respon imun terhadap vaksin sel T dapat bervariasi dari orang ke orang lainnya, seperti pada respon imun terhadap HIV, dan keragaman ini diduga sangat terkait dengan HLA haplotype 4. Sehingga, vaksin sel-T yang diharapkan dapat membantu tubuh untuk secara genetic memiliki kemampuan alamiah untuk berespon terhadap HIV, menghasilkan keragaman kadar pengendalian yang bergantung pada HLA haplotype seseorang. Dengan kata lain, vaksin tersebut hanya cocok dan efektif pada seseorang dengan HLA haplotype yang diinginkan.

Vaksin virus klasik, seperti vaksin polio, cacar, dan campak, memungkinkan seseorang yang divaksin untuk terhindar dari perkembangan klinis penyakit tersebut, untuk membersihkan infeksi secara sempurna, dan menjadi tetap terlindungi dari paparan ulang virus tersebut. Vaksinasi populasi dengan proporsi yang signifikan mengurangi angka infeksi pada populasi tersebut dan kecendrungan orang yang tidak tervaksinasi berkontak dengan orang yang terinfeksi. “Efek komunitas“ ini kemudian akan menghasilkan penurunan dramatis dari penyebaran infeksi bahkan hanya ketika sejumlah kecil orang yang divaksinasi. Jika vaksin HIV tidak dapat mencegah infeksi namun hanya memperlambat progresi penyakit dengan menurunkan jumlah virus, kemungkinan untuk transmisi sekunder hanya dapat diturunkan dan tidak dihilangkan. Beberapa derajat replikasi virus kemungkinan akan tetap ada. Mutasi HIV tak terhindarkan dan tak dapat dicegah sehingga terdapat kemungkinan virus ini akan lolos dari pengendalian sistem imun, dan meningkatkan kembali resiko transmisi sekunder. Sehingga "efek komunitas" dari vaksin sel T kemungkinan hanya bersifat sementara.

Kegagalan dari vaksin sel T yang pertama untuk mempengaruhi resiko infeksi atau jumlah virus mengharuskan perlunya peninjauan ulang terhadap titik target dari vaksin HIV, terutama keseimbangan antara riset penemuan fundamental dan lebih banyak usaha pengembangan empiris. Karena pendekatan empiris kurang begitu penting untuk HIV dibanding dengan virus manusia lainnya, karena secara fundamental HIV sangat berbeda dengan virus lainnya, pemeriksaan ulang ini telah mengarahkan kita akan perlunya menekankan pertanyaan fundamental terhadap penemuan vaksin HIV dan riset terkait dengan penemuan tersebut.

Pemahaman mengapa tubuh tidak dapat menciptakan antibodi penetralisir yang meluas selama infeksi alamiah kemungkinan menyimpulkan bahwa desain vaksin harus dapat menginduksi sistem imun seperti demikian. Intinya, kita harus berbuat lebih baik lagi dibandingkan dengan infeksi alamiah dalam hal menginduksi respon imun yang efektif. Keberadaan dari antibodi monoklonal langka yang memiliki kemampuan untuk menetralisir secara luas mengindikasikan bahwa induksi terhadap antibodi seperti itu seharusnya memungkinkan -walaupun kita selalu gagal untuk mencapainya. Sebagai contoh, kristallography x-ray telah menunjukkan bagaimana HIV menggunakan reseptor CD4 untuk menginvasi sel dan bagaimana antibodi b12-penetralisir yang meluas berikatan dengan situs ikatan-CD4 untuk dapat menetralisir HIV secara efektif. Menentukan struktur dari bentuk trimerik dari protein envelope sekarang ini merupakan prioritas riset dan diharapkan mampu menghasilkan pemahaman baru. Usaha untuk mendesain immunogen envelope terbaru termasuk dengan menggunakan "kerangka" protein yang tidak terkait dengan envelope HIV yang menargetkan "zona aman" (yang diciptakan untuk menghindari sistem imun oleh HIV) pada envelope ditambahkan, untuk memastikan terjadinya pengenalan dan paparan sistem imun terhadap HIV.

Kandidat vaksin yang menginduksi perluasan dari limfosit T sitotoksik reaktif dan antibodi penetralisir akan tidak efektif kecuali respon yang dihasilkan mampu mengenali virus selama masa kesempatan yang sempit sebelum latensi virus terjadi. Pemahaman yang lebih baik dari tahap infeksi dini HIV mungkin memperjelas peran dari respon imun mukosa dan innate terhadap pengendalian virus HIV dan menunjukkan bahwa ternyata respon sedemikian dapat dimanipulasi -untuk memperluas periode emas dalam eradikasi virus ini, dan untuk mencegah HIV berlanjut ke gut-associated lymphoid tissue (GALT), atau keduanya.

Kita mungkin tidak mampu mengembangkan vaksin HIV yang sangat efektif seperti vaksin-vaksin virus lainnya. Tetapi jika kita ingin mampu, kita akan menghadapi tantangan scientifik yang sangat besar. Untuk mengatasi tantangan tersebut, kita harus kembali pada riset fundamental, titik yang belum dibutuhkan untuk pengembangan vaksin virus lainnya atau dengan kata lain riset fundamental yang lebih sophisticated. Kita akan tetap optimis bahwa peningkatan pemahaman substansial kita terhadap infeksi HIV dan penyakit ini akan merangsang ide dan pemikiran kreatif untuk mendesain suatu vaksin HIV yang efektif.

Kesimpulan

Hambatan Pengembangan Vaksin HIV dan Implikasinya

Hambatan
  1. Periode kesempatan sistem imun untuk membersihkan virus sangat pendek, karena HIV mengintegrasi dan mencapai infeksi laten dalam beberapa hari atau minggu
  2. Penghancuran sel T CD4+ terjadi sangat dini setelah infeksi
  3. Keragaman genetic dan mutasi yang terjadi bersamaan dengan replikasi yang membuat HIV dapat menghindari surveillance sistem imun
  4. Bagian luar envelope yang merupakan target antibodi “tersembunyi” dari pengenalan sistem imun.
Implikasi
  1. Pendekatan rasional dan empiris untuk pengembangan vaksin tidak berhasil hingga saat ini.
  2. Pemahaman mendasar mengenai penyakit HIV dan respon host terhadap virus perlu dikuasai.
  3. Ide baru dan kreatif diluar cakupan ilmu vaksinologi klasik perlu dihasilkan

Histologi Lambung

Histologi Gaster
Dinding gaster terdiri dari 4 lapisan utama yang dapat ditemukan di struktur organ gastrointestinal lainnya, yaitu mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan serosa, disertai dengan vaskularisasi dan persarafan gaster (Gambar 1 dan 2). Histologi ini memperlihatkan fungsi lambung sebagai suatu kantung muskular elastis yang dilapisi oleh epitel sekretorium, walaupun terdapat variasi dari struktur lokal dan fungsional dalam struktur ini.

Mukosa
Mukosa merupakan lapisan tebal dengan permukaan halus dan licin yang kebanyakan berwarna coklat kemerahan namun berwarna pink di daerah pylorik. Pada lambung yang berkontraksi, mukosa terlipat menjadi beberapa lipatan rugae, kebanyakan berorientasi longitudinal. Rugae ini kebanyakan ditemukan mulai dari pinggir daerah pyloric hingga kurvatur mayor (gambar 71.7). Rugae ini merupakan lipatan-lipatan besar pada jaringan konektif submukosa (lihat dibawah) dan bukan variasi ketabalan mukosa yang menutupinya, dan rugae ini akan menghilang jika lambung mengalami distensi. Seperti pada semua saluran cerna lainnya, mukosa ini tersusun oleh epitel permukaan, lamina propria, dan mukosa muskuler.

EPITHELIUM

Ketika dilihat melalui mikroskop pada magnifikasi rendah, permukaan dalam dari dinding lambung (Gambar 2) memperlihatkan bentuk sarang lebah dengan foveola gastrica kecil dan ireguler berdiameter 0,2mm. Pada dasar foveola gastrica ini terdapat kelenjar gastrik tubular yang berinvaginasi ke arah lamina propria hingga mukosa muskularis. Epitel kolumner tunggal yang mensekresikan mukus melapisi seluruh permukaan luminal termasuk foveola gastrica dan terdiri dari lapisan sel mukosa permukaan yang melepaskan mukus gastrik dari permukaan apical untuk membentuk lapisan licin protektif tebal diseluruh permukaan gaster. Epitelium ini bermulai secara langsung pada orificium cadiac, dimana terdapat transisi drastis antara epitel oesophagus berupa epitel berlapis gepeng dan epitel gaster.

Kelenjar gastrik

Walaupun semua kelenjar gastrik berupa tubular (pipa), bentuk kelenjar ini beragam dan komposisi selulernya juga berbeda-beda tergantung region tertentu pada lambung.Kelenjar ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan letak regionnya, yaitu kelenjar kardiak, prinsipal (korpus dan fundus), dan pylorik. Fundus dan korpus membentuk bagian mayor dari gaster yang menghasilkan sebagian besar sekresi gaster atau getah untuk pencernaan

Kelenjar Gastric Prinsipal

Kelenjar gastric principle ditemukan pada corpus dan fundus, tiga hingga tujuh saluran dari tiap foveola gastrica (Gambar 1, 2, dan 3). Batas antara kelenjar ini dengan dasar dari foveola gastrik ini disebut bagian isthmus kelenjar dan lebih ke basal adalah leher, merupakan perpanjangan dari dasar. Pada dinding kelenjar terdapat terdapat paling tidak 5 jenis sel yang berbeda-beda : sel chief, sel parietal, sel leher mukosa, sel stem, dan sel neuroendokrin.

Gambar 1. Diagram yang memperlihatkan regional principal pada bagian interior lambung dan histologi jaringan dan sel didalam dinding tersebut. sel yang belum berdifferensiasi, yang membatasi tiap sel, digambarkan berwarna putih (klik untuk memperbesar gambar) .

Sel chief (peptik) (Gambar 1 dan 3) merupakan sumber enzim pencernaan yaitu enzim pepsin dan lipase. Sel chief ini biasanya terletak pada bagian basal, bentuknya berupa silindris (kolumner) dan nukleusnya berbentuk bundar dan euchromatik. Sel ini mengandung granul zimogen sekretoris dan karena banyaknya sitoplasmik RNA maka sel ini sangat basophilic. Sel parietal (Oxyntic) merupakan sumber asam lambung dan faktor intrinsik, yaitu glycoprotein yang penting untuk absorbsi vitamin B12. Sel ini berukuran besar, oval, dan sangat eosinophilic dengan nukleus terletak pada pertengahan sel. Sel ini terletak terutama pada apical kelenjar hingga bagian isthmus. Sel ini didapati hanya pada interval sel-sel lainnya disepanjang dinding foveola dan menggembung di lateral dalam jaringan konektif. Sel parietal memiliki ultraktruktur yang unik terkait dengan kemampuan mereka untuk mengsekresikan asam hydrochloric. Bagian luminal dari sel ini, berinvaginasi membentuk beberapa kanal buntu yang menyokong sangat banyak microvili ireguler. Di dalam sitopaslma yang berhadapan dengan kanal ini adalah membran tubulus yang sangat banyak (sistem tubulovesicular). Terdapat sangat banyak mitokondria yang tersebar di seluruh organella ini. Membran plasma yang menyelimuti mikrovili memiliki kosentrasi H+/K+ ATPase yang sangat tinggi yang secara aktif mengsekresikan ion hidrogen kedalam lumen, ion chloride pun keluar mengikuti gradien eletrokimia ini. Struktur yang akurat dari sel ini beragam tergantung dari fase sekretoriknya : ketika terstimulasi, jumlah dan area permukaan dari mikrovili membesar hingga lima kali lipat, diduga akibat fusi segera dari sistem tubulovesikuler dengan membran plasma. Pada akhir sekresi terstimulasi, proses ini terbalik, membran yang berlebihan kembali pada sistem tubuloalveolar dan mikrovili menghilang.

Sel leher mukosa sangat banyak pada leher kelenjar dan tersebar sepanjang dinding regio bagian basal. Sel ini mengsekresikan mukus, dengan vesikel sekretorik apikalnya mengandung musin dan nukelusnya terletak pada bagian basal. Namun, produksinya secara histokimia berbeda dengan produksi dari sel mukosa permukaan

Gambar 2 Micrograph pembesaran rendah memperlihatkan dinding lambung, daerah dari lipatan longitudinal atau rugae, dapat terlihat makroskopis. Permukaan epitel terlipat secara microskopis membentuk foveola gastric, hingga ke dasar dimana kelenjar gastric yang terbuka sampai ke ketebalan mukosa lamina propria. Lapisan mukosa muskularis dan submukosa mengikuti kontur ruga dan sedikit badian lapisan muskularis eksterna terlihat dibawahnya.

Sel bakal merupakan sel mitotik yang belum berdifferensiasi dari jenis sel kelenjar lainnya. Sel ini relatif sedikit dan terletak pada regio isthmus kelenjar dan bagian basal dari foveola gastric. Sel ini berbentuk silindris (kolumner) dengan sedikit microvili yang pendek. Sel ini secara periodik mengalami mitosis, sel yang dihasilkan bergerak ke apikal untuk berdifferensiasi menjadi sel mukosa permukaan, atau ke basal membentuk sel leher mukosa, sel parietal, dan sel chief, serta sel neuroendokrin. Semua sel ini memiliki durasi hidup yang terbatas, terutama yang mengsekresikan mukus, dan yang selalu diganti. Periode pergantian dari sel mukosa permukaan adalah tiap 3 hari; sel leher mukosa diganti tiap minggu. Jenis sel lainnya sepertinya hidup lebih lama.

Sel neuroendokrin ditemukan disemua jenis kelenjar gastrik namun lebih banyak ditemukan pada corpus dan fundus. Sel ini terletak pada bagian terdalam dari kelenjar, diantara kumpulan sel chief . Sel ini berbentuk pleomorfik dengan nukleus ireguler yang diliputi oleh granular sitoplasma yang mengandung kluster granul sekretorik yang besar (o,3 microm). Sel ini mensintesis beberapa amino biogenic dan polipeptide yang penting dalam mengendalikan motilitas dan sekresi glanduler. Pada lambung sel ini termasuk sel G(yang mensekresi gastrin), sel D (somatostatin), dan sel enterochromaffin-like/ECL (histamine). Sel-sel ini membentuk sistem sel neuroendokrin yang berbeda-beda.

Kelenjar Kardiak
Sel kardiak terbatas pada area kecil dekat dengan orificium kardiak (Gambar 3); beberapa berupa kelenjar tubuler sederhana, lainnya merupakan tubuler bercabang. Sel yang mengsekresikan mukus mendominasi, sel parietal dan sel chief, walaupun ditemukan namun jumlahnya sedikit.

Gambar 3. Mikrograph yang memperlihatkan kelenjar gastrik pada regio fundus, pembukaan dari basal foveola gasric dilapisi oleh sel mukosa serupa dengan sel yang melapisi permukaan epitel. Sel parietal eosinofilik dan sel chief basophilic membatasi kelenjar, terlihat pada pembesaran lebih tinggi di gambar B. Mikrograph dengan pembesaran lebih tinggi menunjukkan sel parietal eosinophilic (panah kecil) dan sel chief basophilic (panah panjang) membatasi kelenjar gastrik (GG); kelenjar ini membuka menjadi foveola gastric (GP), yang mana merupakan invaginasi dari epitel permukaan yang menskresikan mukus.


Gambar 4. Gambaran micrograph yang menunjukkan celah antara sel epitel berlapis gepeng tanpa lapisan keratin pada oesofagus dan pada lambung, dengan kelenjar kardiak. Suatu folikel lymphoid terlihat pada submukosa dari zona peralihan (kiri bawah).

Kelenjar Pyloric

Kelenjar pyloric bermula sebagai dua atau tiga pipa berlekuk-lekuk menjadi suatu dasar dari foveola gastrik pada antrum pylori: foveola mengambil sekitar 2/3 kedalaman mukosa. Kelenjar pyloric kebanyakan ditempati oleh sel penghasil mukus, sel parietal sedikit, dan sel chief sangat jarang ditemukan. Sebaliknya terdapat sangat banyak ditemukan sel neuroendokrin, terutama sel G, yang mengsekresi gastrin ketika diaktifkan oleh stimulus mekanis yang sesuai (menyebabkan peningkatan motilitas gaster dan sekresi asam lambung). Walaupun sel parietal jarang ditemukan pada kelenjar pyloric, sel ini selalu ditemukan pada jaringan janin dan bayi. Pada dewasa sel ini dapat terlihat pada mukosa duodenum yang dekat dengan pylorus.

Gambar 5. Gambaran mikrograph yang memperlihatkan daerah pyloric pada lambung dengan kelenjar pyolorik, pewarnaan yang digunakan periodic acid Schiff (PAS) untuk memperlihatkan musin (magenta/ungu) pada foveola gastric dan kelenjar. Sel berwarna pucat merupakan sel parietal besar (P) dan sel enteroendokrin kecil (E)

LAMINA PROPRIA
Lamina propria membentuk kerangka jaringan konektif antara kelenjar dan mengandung jaringan lymphoid yang terkumpul dalam massa kecil folikel lymphatic gastrik yang membentuk folikel intestinal soliter (terutama pada masa awal kehidupan). Lamina propria juga memiliki suatu pleksus vaskuler periglanduler yang kompleks, yang diperkirakan berperan penting dalam menjaga lingkungan mukosa, termasuk membuang bikarbonat yang diproduksi pada jaringan sebagai pengimbang sekresi asam. Pleksus neural juga ditemukan dan mengandung ujung saraf motorik dan sensorik.

MUCOSA MUSKULARIS

Mukosa muskularis merupakan lapisan tipis dari serat otot halus yang terdapat pada bagian eksternal dari kelenjar. Serat muskular ini teratur dalam bentuk sirkuler di dalam, lapisan longitudinal di bagian luar, terdapat pula lapisan sirkuler diskontinu bagian luar. Lapisan dalam mengandung jelujur sel otot polos terletak di antara kelenjar dan kontraksinya kemungkinan membantu dalam mengosongkan foveola gastrik.

Submukosa

Submukosa merupakan lapisan bervariabel dari jaringan konektif yang terdiri dari bundel kolagen tebal, beberapa serat elastin, pembuluh darah, dan pleksus saraf, termasuk pleksus submukosa berganglion (Meissner's) pada lambung.

Muscularis eksterna
Muscularis eksterna merupakan selaput otot tebal berada tepat dibawah serosa, dimana keduanya terhubung melalui jaringan konektif subserosa longgar. Dari lapisan terdalam keluar, jaringan ini memiliki lapisan serat otot oblique, sirkuler, dan longitudinal, walaupun celah antara tiap lapisan tidak berbeda satu sama lain. Lapisan sirkuler kurang begiru berkembang pada bagian oesofagus namun semakin menebal pada distal antrum pyloric untuk kemudian membentuk sphincter pyloric annular. Lapisan longitudinal luar kebanyakan terdapat pada 2/3 bagian kranial lambung dan lapisan oblique dalam pada setengah bagian bawah lambung.

Kerja dari muskularis eksterna ini adalah menghasilkan pergerakan adukan yang mencampur makanan dengan produk sekresi lambung. Ketika otot berkontraksi, volume lambung akan berkurang dan menggerakkan mukosa menjadi lipatan longitudinal atau rugae (lihat atas). Rugae ini akan datar kembali dan menghilang ketika lambung penuh akan makanan dan muskulatur berelaksasi dan menipis. Aktivitas otot diatur oleh jaringan saraf autonom yang tidak bermyelin, yang terdapat pada lapisan otot dalam plexus myenterik (Auerbach's)

SEROSA ATAU PERITONEUM VISCERA
Serosa merupakan perpanjangan dari peritoneum visceral yang menutupi keseluruhan permukaan pada lambung kecuali sepanjang kurvatura mayor dan minor pada pertautan omentum mayor dan minor, dimana lapisan peritoneum meninggal suatu ruang untuk saraf dan vaskler. Serosa juga tidak ditemukan pada bagian kecil di posteroinferior dekat dengan orificium kardiak dimana lambung berkontak dengan diafragma pada refleksi gastrophrenik dan lipatan gastropancreatik