Minggu, 18 Mei 2008

Selayang Pandang - Skizofrenia

SKIZOFRENIA

Penderita gangguan jiwa sering mendapatkan stigma dan diskriminasi yang lebih besar dari masyarakat disekitarnya dibandingkan individu yang menderita penyakit medis lainnya. Hal ini tampak lebih jelas dialami oleh penderita skizofrenia, mereka sering mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi, misalnya perlakuan kekerasan, diasingkan, diisolasi atau dipasung. Mereka sering sekali disebut sebagai orang gila (insanity atau madness). Ini mungkin disebabkan karena ketidaktahuan atau pengertian yang salah dari keluarga atau anggota masyarakat mengenai skizofrenia. Masyarakat pada umumnya mengesampingkan bahwa perubahan pada seseorang yang menderita skizofrenia berhubungan dengan kepribadiannya yang terpecah, tetapi masyarakat lebih menekankan bahwa mereka adalah orang yang sangat berbahaya bagi lingkungan sekitarnya

Skizofrenia bukan masalah psikologis semata, ini merupakan gangguan jiwa yang harus ditangani dengan tepat dan benar. Manifestasi gangguan ini sering ditemukan pada kelompok usia muda. Hal ini akan mempengaruhi perasaan, pikiran, perilaku, pergerakan, pembicaraan, inisiatif, pekerjaan, dan kehidupan social dari penderita. Akibat kurangnya pengetahuan mengenai skizofrenia, menyebabkan timbulnya pengertian yang salah baik di pihak keluarga maupun lingkungan sekitar sehingga penanganannya menjadi lebih lama disebabkan kebingungan keluarga dalam mencari bantuan yang tepat.

Gambar 1. Seorang skizofrenik pada bangsal perawatan RS.Dadi

Kurangnya kesadaran masyarakat akan penyakit ini mungkin berhubungan dengan penatalaksanaan yang tidak adekuat dan fasilitas perawatan yang kurang memadai. Onset yang timbul pertama kali pada skizofrenia sering ditemukan pada usia remaja atau dewasa muda, perjalanan penyakit yang kronik dan tidak sembuh. Hal ini menyebabkan penderita sering dianggap menjadi beban dan kurang berguna bagi masyarakat. Beban ekonomi dan penderitaan yang harus ditanggung oleh penderita skizofrenia ternyata sangat besar. Ini dapat dilihat dari data yang ada bahwa 8% pasien dengan skizofrenia tidak bekerja, 50% melakukan usaha bunuh diri, 10% berhasil melakukan bunuh diri, belum lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkan baik secara langsung unutk membeli obat-obatan dan biaya perawatan, maupun secara tidak langsung seperti hilangnya pendapatan pasien, waktu yang diberikan oleh care-givers untuk penderita, serta penderitaan yang dialami oleh pasien dan pihak keluarga.

Psikosis dapat terjadi ketika seseorang kehilangan kemampuannya untuk membedakan apakah yang dialaminya itu pengalaman yang berdasarkan realita atau bukan. Suatu gangguan sudah dapat dikatakan psikosis apabila terdapat gejala berupa waham atau halusinasi. Gangguan yang termasuk kedalam kelompok psikosis adalah skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, gangguan waham, brief psikotik disorder, psikotik terbagi atau folie adeux, dan psikotik karena kondisi medis umum atau suatu zat. Sedangkan gangguan yang berhubungan dengan gambaran psikotik adalah mania, depresi, gangguan kognitif, dan demensia.

Skizofrenia merupakan salah satu dari kelompok gangguan psikotik, yang dikarakteristikkan dengan symptom positif atau negative dan sering dihubungkan dengan kemunduran penderita dalam menjalankan fungsinya sehari-hari. Seseorang yang menderita skizofrenia akan mengalami kesulitan untuk membedakan manakah pengalaman yang berdasarkan realita atau bukan, pikiran yang sesuai dengan logika atau tidak, perilaku ang serasi atau tidak. Skizofrenia akan memperburuk kemampuan seseorang dalam bekerja, sekolah, berhubungan dengan orang lain dan merawat diri. Penderita dengan skizofrenia dapat mengalami remisi dan kekambuhan, mereka dapat dalam waktu yang lama tidak muncul gejala, maka skizofrenia sering disebut dengan penyakit kronik, karena itu perlu mendapatkan perhatian medis yang sama, seperti juga individu-individu yang menderita penyakit kronik lainnya seperti hipertensi dan diabetes mellitus.

Gambar 2. Pasien skizofrenik tidak dapat merawat diri sendiri sehingga pengobatan tidak terbatas hanya pada obat saja namun membantu pasien dalam merawat diri

Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang akan membebani masyarakat sepanjang hidup penderita, dikarakteristikkan dengan disorganisasi pikiran, perasaan, dan perilaku (Lenzenweger & Gottesman, 1994). Skizofrenia merupakan salah satu penyakit yang paling menghancurkan kehidupan penderitanya karena mempengaruhi setiap aspek dari kehidupannya. Seorang yang menderita skizofrenia akan mengalami gangguan dalam pembicaraan yang terstruktur, proses, atau isi pikir dan gerakan serta akan tergantung pada orang lain selama hidupnya (Piotrowski, 2004)

Penilaian dari manajemen dalam penatalaksanaan pasien skizofrenia perlu dilakukan dengan menentukan diagnosis yang lebih akurat dan pilihan pengobatan yang lebih efektif dan efisien dengan mempertimbangkan banyak aspek. Ini memberikan harapan hasil yang lebih baik seperti gangguan fungsi yang dialami oleh pasien mengalami perbaikan, kualitas hidup penderita menjadi lebih baik, dan penderitaan emosional yang dialami oleh pasien dan anggota keluarga berkurang.

Gambar 3. Chlorpromazine, obat antipsikosis yang paling sering digunakan pada pasien psikotik

Mengetahui aspek biologi dari skizofrenia sangat membantu kita dalam aplikasi klinis, sehingga terapis dapat mengetahui patologi intracranial, prediksi yang terjadi pada pasien, dan monitoring respon obat. Mengetahui psikofarmakologi dalam hal ini obat-obat antipsikotik generasi kedua penting untuk mengetahui keuntungan dalam keamanan dan efikasi pengobatan dibandingkan obat-obat antipsikotik generasi pertama. Penelitian yang dilakukan saat ini mengarahkan terjadinya skizofrenia dikarenakan ketidakseimbangan neurokimia yang disebut dengan neurotransmitter. Melalui teknik pencitraan dengan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emmision Tomography (PET), Single Proton Emision Computed Tomography (SPECT) memungkinkan kita mengetahui adanya perubahan struktur dan fungsi pada otak penderita skizofrenia.

Penanganan terbaik yang dilakukan tehadap penderita skizofrenia meliputi penatalaksanaan yang menyeluruh dan terintegrasi serta memperhatikan seluruh aspek dari tiap-tiap penderita sehingga tidak hanya dapat meningkatkan kualitas hidup dan arkat penderita skizofrenia itu sendiri namun juga keluarganya.

Gambar 4. Pasien skizofrenik memang tidak dapat sembuh total namun harapan meningkatkan kualitas hidup mereka tidak kecil

2 komentar:

kebenaran mengatakan...

jamu psikologi kunjungi www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit

Pupuk NASA mengatakan...

Sudah di temukan solusi Skizofrenia yaitu dengan Natural Brian Power Silahkan kontak email ini edis21ATGmail.com